Archive for October, 2008

Ramadhan Dan Setelahnya

October 17, 2008

Pada malam pertama bulan hijriah yang diagungkan dan dimuliakan dan itu adalah hari istimewa yang paling hambar. Tidak terasa nuansa Ramadhan pada malam itu, karena memang pada dasarnya orang-orang tidak seantusias dulu ketika Ramadhan yang lalu. Jadilah malam istimewa yang ditinggalkan.

Tapi dalam tulisan yang kali ini hanya akan diceritakan hal-hal yang mengesankan saja. Baik dalam bulan Ramadhan maupun setelahnya. Inilah awal kisah ceritaku,

Hari pertama puasa di bulan yang sangat luarbisaa diagungkan Ini seperti layaknya anak kecil, keluhan bercucuran dari mulut maupun hati. Karena pada hari itu tidak seperti bulan Ramadhan yang lalu. Hari itu-seperti yang telah ditulis-merupakan hari-hari hambar yang tidak memiliki rasa dalam pelaksanaannya.

Jadi untuk mengantisipasi kehambaran, pastilah harus diberi bumbu-bumbu yang tepat. Agar bumbu apa yang kumasukkan tidak salah, terlaebih dahulu kita harus mengetahui bumbu yang bisaanya digunakan. Dalam Ramadhan ini, bisaanya kita tilawatil qur’an dan memperbanyak ibadah. Tapi karena tilawatil qur’an bisa membuat hambar cepat hilang, maka akhirnya yang kulakukan paling sering adalah tilawatil qur’an.

Mulailah aku mengisi hari-hariku dengan tilawatil qur’an. Aku mencoba menciptakan nuansa Ramadhan-ku sendiri. Cara menarik yang sangat bisaa, bagiku hari-hari Ramadhan pada tahun ini tidak lebih membuatku semangat daripada Ramadhan yang telah kulalui.

Hingga yang terjadi adalah tilawatil qur’an yang sangat –dan sangat menganggu rasa bulan ini– memperburuk nuansa Ramadhan. Jadi aku mencobanya dengan melakukan aktivitas duniawi yang lainnya.

Karena yang kulakukan membuatku bosan juga, lebih baik ngobrol dengan teman-temanku. Karena malas pergi ke rumah teman, yang terjadi adlah berbicara via sms. Atau bahasan anehnya sms-an(baca: es e mesan).

Mulailah aku bisa mengimbangi dunia dan akhirat. Krena mulai bosan, yang terjadi adalah kearah akhirat yang lebih dominan. Dan akhirnya malah menjadi hal yang menyenangkan. Aku telah menemukan resep untuk menghilangkan kehambaran Ramadhan. Inilah resepnya:

Mulailah ibadah yang bisaa dilakukan di bulan Ramadhan. Setelah bosan, imbangi dengan amal duniawi yang berlebihan hingga benar-benar bosan dan membuat kita menjauhinya. Barulah kau akan mendapati Ramadhan yang ideal. Mau coba? Tapi resep ini sangat subyektif, belum tentu berhasil untuk semua orang.

Lalu setelah itu menjadi kebisaaan di bulan Ramadhan, kau bisa merasakan nikmat melakukan hal itu. Yaitu ibadah yang continue. Menyenangkan rasanya meski malas melakukannya. Jadi untuk mengantisipasi yang ini –yaitu malas untuk melakukan hal yang menyenangkan ini– yang kau butuhkan adalah lawan yang menurutmu seimbang. Cari lawanmu sendiri! Itu yang kau butuhkan. Sekali lagi, resep ini sangat subyektif. Tidak selalu mempan pada semua orang.

Hari-hari kujalani dengan semangat yang malas-malasan. Aneh memang, tapi ini adalah dua hal yang tercampur –dan juga berlawanan– yang kurasakan. Artinya ada sesuatu yang membuatku semangat dan membuatku malas sekaligus. Dua hal yang berbeda yang membuatku pusing dan membuat segala hal yang kukerjakan menjadi hal yang asyik sekaligus membosankan. Tapi yang terlontar dari mulut adalah bosan, akhirnya bosan yang dominan malah semakin kuat dan hal itu membuatku hilang selera untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan.

Artinya hal-hal yang harusnya menyenangkan malah menjadi hal-hal yang membosankan. Artinya(lagi?) semua hal yang berhubungan dengan kata pekerjaan memberikan kebosanan. Yang bisa kulakukan –dan efektif– adalah: istirahat alias tidur.

Tapi tidur-pun menjadi hal yang tidak mudah, aku malah asyik memikirkan orang-orang disekitarku, terutama orang-orang terdekat. Itu merupakan hal yang menyenangkan yang kulakukan dari dulu… sekali hingga sekarang. Hal yang bisa mengusir segala kebosanan yang melanda jiwa yang bodoh ini.

Poin penting yang harus kuhilangkan ketika memikirkan teman-temanku adalah jangan melamun! Maka antara membaca Al-qur’an dan memikirkan teman-temanku kujadikan satu.

Hal ini berhasil, tapi membuatku sering melakukan kesalahan dalam membaca Al-Qur’an. Yang kulakukan akhirnya membaca Al-qur’an dan melamun memikirkan teman-temanku. Ketika bosan aku memikirkan teman-temanku dan ketika aku sadar telah melamun, aku membaca Al-qur’an. Ramadhan ini ternyata cukup memberi kesan padaku. Sekaligus memberi resep-resep untuk Ramadhan mendatang.

Pada hari terakhir Ramadhan, aku dan keluarga berencana pulang kampong. Atau bahasa umumnya disebut-sebut dengan mudik. Tujuannya bagiku jelas dan sudah sering dikunjungi: rumah orangtua dari kedua pihak orangtuaku.

Selama perjalanan tidak ada kata macet karena banyak mobil atau semacamnya. Yang ada hanyalah kebosanan yang melanda. Untuk mengusirnya, adalah ngobrol dengan teman. Yang kali ini juga tentu saja via sms. Sekali lagi, bahasanya anehnya adalah sms-an((sekali lagi(lagi?))baca: es e mesan).

Tidak ada banyak hal yang istimewa selama perjalanan. Maka ini adalah sebuah kebosanan yang akan dibayar dengan bersenang-senang. Tujuan pertama adalah Pekalongan. Yang berarti itu adalah rumah orangtua dari ayahku.

Detik demi detik, menit demi menit, dan jam demi jam telah kuklewati untuk tujuan ini. Setelah melewati rintangan demi rintangan, belokan demi belokan, tol demi tol, akhirnya aku sampai di sebuah tempat yang masih saja ber-aspal.

Lalu sampailah di rumah ayahnya ayahku dan mertuanya ibuku. Artinya ini rumah kakek dari ayahku. Rumah ini sederhana dengan halaman yang cukup luas untuk dua mobil yang diparkirkan.

Kami sampai ketika sedang senja. Senja yang indah. Tapi bukan karena alam yang indah, tapi karena setelah senja berlalu, datanglah hari yang sangat luar bisaa indah. Lebaran. Idul Fithri. Kembali kepada Fitrah.

Ini adalah hari-hari yang ditunggu oleh kaum dewasa karena hari yang indah itu dan hari-hari yang ditunggu oleh kaum anak-anak karena akan terbebas dari lapar dan haus, juga THR yang ditunggu oleh anak-anak.

Sedangkan bagi kaum yang ditengah antara dewasa dan anak-anak, mereka menunggu keduanya. Bagi orangtuapun ini juga hari yang ditunggu, karena anak-anak dan cucu-cucu mereka akan datang untuk ber-silaturahmi. Hari yang ditunggu oleh semua orang. Hari yang ditunggu oleh semua orang tentu saja hari yang indah.

Fajar telah datang, shubuh-pun kujalankan. Hari ini aku akan shalat id di jalanan. Menyenangkan. Dan Khutbahnya, membuatku ingin menangis. Bukan karena apa-apa, tapi aku tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh sang khotib.

Setelah pagi itu telah berlalu, kami sekelurga mulai pergi ke rumah kakek dan nenekku dari ibuku, ini baru hal yang tidak bisa kutunggu terlalu lama. Maka setelah siang kami langsung pergi kesana. Ke Madiun.

Sampai di Madiun saat itu adalah jam dua atau tiga pagi. Disana kebanyakan orang telah tidur. Tidak seperti dulu, mereka menunggu kami hingga sampai.

Inilah hamparan indah di Madiun. Masih terlihat kedesaannya, masih terlihat sawah terhampar, ladang-ladang–termasuk ladang yang sudah panen sehingga mirip hutan gundul yang terbakar.

Setiap hari di Madiun ini seperti hari Jum’at(Baca: Friday(Baca: Freeday(Baca:Hari Bebas))). Ya, hari-hari di Madiun terasa sangat lama, bahkan kadang terlalu lama karena harus pergi kemana-mana.

Tapi namanya hari bebas tetap saja menyenangkan. Kami bisa bermain-main, nonton film, baca komik, dan bermain bola. Humm… menyenangkan meski hanya beberapa hari.

Libur pun hanya tinggal libur. Tanggal 13 Oktober 2008 pun datang. Itu artinya kami kembali masuk sekolah(???). Humm… sekolah, bingung juga dibilang sekolah. Home scholling, bingung juga disebut Home scholling. Pokoknya itulah, sulit dimengerti memang.

Tanggal 13 Oktober 2008 yang berarti hari Senin. Sama seperti hari-hari biasa. Yang beda adalah tanggalnya tentu saja. Kalau tanggal tidak ada, hari hanyalah tinggal 7. Hanya ada tujuh hari tanpa perbedaan. Itulah gunanya tanggal.

Tapi tanggal pun hanya 29-31. Itu saja? Kurang menarik, maka adalah bulan. Tapi bulan hanya 12 Januari-Desember. Itu saja? Masih Kurang. Maka tahun pun diberlakukan. Jadilah ini cukup.

Sekali lagi, tanggal 13 Oktober 2008 yaitu hari Senin. Warga Techno Natura mengadakan halal bi halal ke setiap rumah siswa. Hanya per level saja. Meski ada yang digabung yaitu level 9, 10, dan 11. Bagiku tidak seperti digabung. Itu seperti pemisah anak laki-laki dan perempuan saja. Maka tidak terlihat seperti terpisah.

Yup, setelah halal bi halal ke rumah sisiwa, kami selaku level 9, 10, dan 11–atau disebut level gabungan saja. Dianugerahi atau diberi ujian untuk menjadi panitia halal bi halal satu sekolah yang Home scholling juga itu. Bukan kejutan.

PIC ditunjuk, dan mulailah bekerja seperti biasa. Ya, seperti biasa, ada saja yang tidak terlihat bekerja. Tapi inilah memang proses berjalannya organisasi ini.

Organisasi ini mulai melakukan tugas mereka setelah diberi instruksi oleh mandornya. Siapa? Mentor merekalah yang dianggap mandor. Mereka lalu menjalankan fungsi mereka masing-masing setelah mengelompokkan PJ-nya. Dan ini berjalan meski belum benar. Dan mungkin begitu terus hingga selesai.

Sulit dan terlalu panjang jika harus menceritakan bagaimana mereka bekerja. Tentu saja karena mereka tidak begitu terlihat bekerja. Mungkin yang sebagian bekerja, tapi sebagian lainnya juga bekerja, tapi dengan bermalas-malasan.

Setelah Senin 13 Oktober 2008 berlalu, tentu saja datang hari Selasa 14 Oktober 2008. Karena belum nampak tanda-tanda kiamat. Hari Selasa yang ini kami lebih fokus kepada acara hari Rabu 15 Oktober 2008 mendatang.

Kali ini setiap PJ bekerja lebih efektif. Mereka mulai menyebar dan mulai menampakkan bahwa mereka adalah penanggung jawab hari H nanti. Berbagai cara mereka lakukan agar acara dapat berjalan nantinya.yang tidak dimengerti adalah mereka melakukan sesuatu dengan menunjukkan kemalasan. Hhh… dasar.

Padahal tidak perlu melihat hasil, yang dilihat adalah usahanya. Kalau begini, apapun hasilnya, tetap saja tidak maksimal. Yak, beranjak ke adegan selanjutnya, diketahui ada satu kelompok PJ yang mungkin ada kesalahan teknis.

Yap, kelompok itu adalah PJ peralatan. Mereka memiliki tiga anggota, tapi hanya satu orang saja yang hadir dan terus begitu hingga hari H. maka dengan kerelaan sang Mandor, salah satunya merelakan diri untuk menjadi anggota. Yah… tidak ada yang salah ini adalah sesuatu yang diluar kehendak, mana bisa dipaksakan.

Hari pun berganti. Rabu 15 Oktober 2008 pun datang dengan sendirinya. Inilah hari halal bi halal yang sebagian menunggunya, dan sebagian lainnya tidak. Halal bi halal diadakan di Universitas Indonesia atau dikenal juga dengan sebutan UI. Ya, halal bi halal di dekat balairung dekat danau seberang Masjid.

Yang menarik dari tempat ini adalah pemandangannya dan angin sejuk yang selalu bertiup. Tempat yang cocok untuk acara di tempat terbuka. Juga menyenangkan ditiup angin di bawah pohon-pohon karet. Sehingga tempat ini tidak begitu membosankan. setidaknya jika ada acara yang tidak disuka, mereka bisa menikmati angin dan pemandangan yang indah dan juga rusak.

Tapi meski rusak, kalau dilihat sebenarnya memang indah, apalagi jika dibarengi dengan embusan anginnya yang hampir setiap waktu itu. Sebenarnya yang rusak itu hanya danaunya. Danau itu memang terlihat menarik, tapi kalau kamu mengelilinginya, banyak sampah di danau itu. Itulah yang membuatnya rusak.

Tapi kalau untuk halal bi halal, okelah, rasanya memenuhi syarat pada lokasinya. Dan lagi di bawah pohon, sehingga akan terlindung dari panas. Itu adalah tempat yang sangat menyenangkan.

Kalau untuk acara halal bi halal-nya sih oke. Tapi kalau untuk permainan, sepertinya permainan pembukaannya tidak menarik. Terutama bagi yang laki-laki.

Dan lagi yang suka memainkannya hanya anak kecil dan yang perempuan. Kalau ingin membuat permainan lebih baik –atau memang seharusnya yang disukai oleh pihak manapun yang hadir.

Kalau hadirin tidak menyukai permainan ini –apalagi ini acara pembukaannya maka acara selanjutnya pun bisa ikut tidak menarik. Ini sesuatu yang harus diperhatikan demi kelangsungan acara. Karena opening biasanya juga mencerminkan acaara yang selanjutnya.

Tapi bukan karena tidak menarik mereka tidak suka melihat pentas seni dari setiap level, apalagi ada yang tidak mau ikut pentas seni. Bagaimanapun juga ini acara mereka, mereka seharusnya mau meramaikan acara tersebut.

Dan lagi, jika memang tidak ingin, mereka seharusnya memperhatikan yang sedang pentas, ingat! Ini juga acara mereka, merekalah tamu kehormatannya. Tapi tentu saja mereka juga harus menghormati orang yang meramaikan acara mereka.

Satu hal lagi, pada saat tukar kado ini ada masalah lainnya. Para penyumbang kado ada yang tidak mendapatkan kado. Kenapa? Tidak terlalu jelas, mungkin ada yang tidak mengumpulkan kado malah mendapatkan kado.

Kalau hal lainnya, sepertinya sudah memnuhi syarat sebagai sebuah acara. Karena acara ini cukup membuat mereka senang, terutama anak kecil yang berada disana.

Hello world!

October 17, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.